Outbound, kata yang biasa
didengar oleh kalangan masyarakat. Terutama orang – orang yang gemar sekali
dalam berpetualangan. Outbound adalah bahasa inggris yang terdiri dari dua
kata, yaitu out dan bound. Out berarti luar dan bound berarti batas, berarti kita
semua akan diperlakukan diluar batas kemampuan kita. Kami prasmulyan, terutama
Kelompok 39 atau Burung Hantu. Telah mengikuti outbound, yaitu pada gelombang
kedua yang dilaksanakan pada tanggal 28 hingga 30 Agustus 2013. Pada outbound
ini, kami dikatakan akan dites dalam segala bidang. Mental, fisik dan bahkan
kepintaran kami. Dan terutama solidaritas kami sebagai kelompok dan angkatan
2013.
Pada hari pertama, kami sudah
harus berkumpul di kampus Prasetiya Mulya BSD pada jam 5 pagi. Dan tentu saja
kami dari rumah harus berangkat lebih awal. Ada yang berangkat pada jam 4 pagi,
ada yang berangkat pada jam 2, dan oleh karena takutnya terlambat untuk
berangkat pada pagi hari itu. Ada juga anak yang menahan tidurnya atau tidak
tidur sama sekali. Mungkin karena tidak ingin mengecewakan tim mereka apabila
mereka telat bangun. Dan tentu saja, ada yang terlambat oleh karena hal – hal
tertentu. Dan ada pula yang tidak bisa hadir dalam outbound gelombang kedua ini
oleh karena sakit. Anak – anak yang sakit tersebut harus mengikuti outbound
pada tahun berikutnya atau bahkan kerja social disekitar kampus tersebut.
Pada jam 5, kami sudah mulai
berjejeran menunggu teman – teman sekelompok mereka masing – masing. Selagi
menunggu, datanglah tronton angkatan laut, darat, dan sebagainnya untuk
mengangkut kami dan mengantarkan kami kepada tujuan yang akan dituju. Sekitar
jam 05.45 pagi hari, kami berangkat ke jatiluhut – tujuan outbound kami-. Dan
sampai ditujuan sekitar pertrngahan siang dan pagi hari. Setelah kami sampai, tronton
kami digedor dan kami semua dipaksa turun secepat mungkin untuk berbaris.
Setelah selesai berbaris diterik matahari yang panas tersebut, kami dibimbing
oleh GI atau singkatan yang diberikan kepada Pembina outbound tersebut untuk
berjalan ke tempat peristirahatan kami selama disana.
Pada hari itu kami diajarkan
untuk tegas dalam berbaris, memakan makanan yang cukup agar tidak membuang –
buang makanan, dan menghormati orang – orang yang lebih tua dari kita atau yng
biasa dikatakan dengan senior. Mereka mengajarkan disiplin pada kami agar kami
siap bertempur di kalangan kampus nanti, mereka menginginkan kami – anak didik
mereka selama tiga hari, dua malam – untuk semangat dalam kuliah mereka masing –
masing setelah keluar dari kegiatan outbound tersebut. Dan oleh karena
keteledoran angkatan kami dan terutama peserta outbound gelombang kedua, kami
peserta gelombang kedua harus diceburkan atau direndam di dalam Waduk Jatiluhur
pada tengah malam yang sangat gelap.
Pada saat itu kami mengenakan
pelampung dan diperlihatkan contoh di depan mata kami, yaitu sebuah api yang
menyala. Dimana bila tertiup oleh angin, ia akan mengikuti arah tiupan tersebut
dan lama kelamaan akan padam. Mereka juga menyuruh kami untuk membaca sumpah
pemuda dan menyanyikan lagu Padamu Negeri sebagai simbol ikrar kami untuk terus
bekarya bagi bangsa, dengan disaksikan oleh langit, bumi, dan bahkan kakak kelas
dan pembimbing kami selama disana.
Setelah itu, kami memasuki hari
kedua yaitu business day yang sangat menantang. Kami diuji dalam empat hal pada
hari itu, yaitu rowing, hiking, games dan bahkan rappelling. Dalam hari itu
kami harus menyelesaikan hal – hal tersebut, yang dimulai dari jam 9 pagi
hingga jam 5 sore, dan bila kami berhasil menyelesaikan hal – hal tersebut .
Kami berarti berhasil mengumpulkan points agar dapat membuat maket yang akan
dilaksanakan pada malam harinya. Dan dengan lancarnya tim 39 atau Burung Hantu
telah menyelesaikan semua tantangan tersebut. Dan pada saat malam hari, kami
sudah membuat maket kami dengan menggunakan points yang telah kami kumpulkan.
Pengerjaan maket tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar karena antar grup
hanya berusahanya menyelesaikan maketnya masing-masing dan tidak mau saling
membantu satu sama lain.
Pada esok harinya, kami terpaksa
harus bangun jam 2 pagi dan berkumpul untuk melaksanakan apel atau upacara dan
membereskan penglengkapan kamu. Kami disuruh untuk berangkat dengan seksama
menuju tujuan kami berikutnya, yaitu pedesaan Kenalagi. Untuk melaksanakan satu
kegiatan sebelum kami kembali ke kampus kami, yaitu membuat saluran untuk
pedesaan mereka agar warga disana tidak kehabisan air atau terlanda musibah
tersebut lagi. Dan kami harus bekerja
sama mencari pipa – pipa tersebut di suatu tempat yang telah ditentukan
persembunyiannya. Dan kami pun berhasil mendapatkan dua bagian pipa pada detik
terakhir.
Dihari itu, mulai terasahlah
kekompakan kami sebagai satu tim, satu gelombang outbound dan bahkan sebagai
satu angkatan. Sebelum kami pulang, kami melaksanakan upacara atau apel kami
yang terakhir disana. Dan pada saat itu, lodestar kami – kak Irene Giatro -
diberikan gelar yang cukup membanggakan. Yaitu lodestar terbaik. Kami merasa
lega dan bahagia setelah ini, oleh karena kami diperbolehkan pulang untuk
beristirahat didalam bus dan yang pastinya nanti dirumah kami masing - masing.
Banyak sekali yang kami dapat
dari outbound ini dan semuanya bisa dirangkum dengan baik dalam 4Cs values
Prasetiya Mulya. Competence : kami diajarkan berbagai skills baru seperti
navigasi darat, turun tebing, dll. Terlebih lagi kami diajak untuk berfikir
kreatif dalam memecahkan segala masalah yang sedang kami hadapi. Character :
kami belajar bagaimana cara bersikap saat menghadapi situasi yang tidak bisa
kami elakkan. Contribution : kami belajar untuk saling berkontribusi untuk sesama
Prasmulyan dan juga untuk bekerja sama untuk membantu masyarakat Indonesia pada
umumnya. Connectivity : kami diajak untuk saling mengenal dan dapat saling bahu
membahu dalam memecahkan suatu masalah.
Kesan dan pesan kami : tradisi
outbound harus terus dilaksanakan untuk Prasmulyan di tahun-tahun yang akan datang
karena values yang ingin ditanamkan sangatkan dalam, tentu dengan berbagai
perbaikan-perbaikan baik dalam sini teknis maupun program.
No comments:
Post a Comment